muskuloskelet “nyeri sendi”


MODUL 1

NYERI SENDI

 

Skenario 3

Seorang wanita 35 tahun, Ibu Rumah Tangga, mengeluh nyeri pada jari-jari tangan kiri dan kanan, keluhan dialami sejak tiga bulan terakhir ini. Kaki pagi hari (+), berlangsung sekitar 30 menit-1 jam. Keluhan demam tidak menggigil sering dialami.

KEYWORD..

►    Wanita 35 tahun

►    Ibu rumah tangga

►    Nyeri pada jari tangan kiri dan kanan

►    Kaku pagi hari (30mnt-1jam)

►    Demam tidak menggigil

 

KLARIFIKASI KATA SULIT..

Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan

PERTANYAAN..

1.      Bagaimana struktur anatomi tangan ?

2.      Bagaimanakah mekanisme nyeri ?

3.      Bagaimana Differntial Diagnostic ?

4.      Bagaimana etiologi dan patogenesisnya ?

5.      Bagaimana gejala klinik dari penyakit ini ?

6.      Di mana saja predileksinya ?

7.      Apa saja pemeriksaan yang dapat dilakukan ?

8.      Bagaimana penatalaksanaannya ?

 

JAWABAN PERTANYAAN..

  1. Anatomi tangan

 

a. Tulang

  • Ossa carpi (carpalia)

Terdiri dari 8 buah tulang dan terletak dalam dua baris :

–          Baris I (deretan proximal) :

Os scaphoideum (os naviculare)

Os lunatum

Os triquentrum

Os pisiform

–          Baris II (deretan distal) :

Os trapezium (os multangulum majus)

Os trapezoideum (os multangulum minus)

Os capitulum

Os hamatum

  • Ossa metacarpi (metacarpalia)

Terdiri dari 5 buah os longum. Setiap os metacarpi mempunyai basis metacarpal, corpus metacarpalis, dan caput metacarpalis.

  • Ossa digitorum

Setiap jari terdiri dari 3 ruas, kecuali ibu jari yang mempunyai 2 ruas, yaitu phalanx proximalis, phalanx media, dan phalanx distalis. Setiap phalanx mempunyai basis phalanges, corpus phalanges, dan caput phalanges.

b. Persendian

  • Articulatio radiocarpalis (wrist joint)

Articulus ini bertipe Ellipsoidea, dibentuk oleh os naviculare manus, os lunatum, dan os triquentrum yang membentuk permukaan konveks dan di pihak lain adalah ujung distal radius bersama-sama dengan discus articularis yang membentuk permukaan konkaf.

  • Articulatio intercarpalis

Ossa carpalia deretan proximalis membentuk articulus dengan ossa carpalia deretan distalis membentuk Articulatio Mediocarpalis. Pada articulus ini permukaan persendian yang konveks dibentuk oleh os hamatum dan os capitalum, permukaan yang cekung dibentuk oleh os scaphoideum, os lunatum, dan os triquentrum. Sementara itu, permukaan yang konveks dari bagian distal os scaphoideum membentuk persendian dengan permukaan yang konkaf yang dibentuk oleh os trapezium dan os trapezoideum.

  • Articulatio carpometacarpalis

Ada lima buah  articulatio carpometacarpalis. Yang pertama dibentuk oleh basis ossis metacarpalis dengan multangulum majus. Basis metacarpalis II membentuk persendian dengan os multangulum majus, os multangulum minus, dan os capitalum. Basis metacarpalis III membentuk articulus dengan os capitalum. Basis metacarpalis IV membentuk articulus dengan os capitatum dan os hamatum. Selanjutnya terbentuk persendian antara basis metacarpalis II, III, dan IV satu sama lainnya.

  • Artculatio metacarpophalangealis

Dibentuk oleh basis phalanx I (proximalis) yang mempunyai permukaan konkaf dngan capitulum metacarpalis yang berbentuk bola.

  • Articulatio interphalangeales

Dibentuk antara caput phalanges pada satun phalanx (proximalis) dengan basis phalanx berikutnya (distalis)

 

  1. Mekanisme nyeri

Mekanisme nyeri dimulai dari stimulus nociceptor oleh stimulus noxious pada jaringan, yang kemudian akan mengakibatkan stimulasi nocereceptor di mana di sini stimulus noxious tersebut akan diubah menjadi potensial aksi. Proses ini disebut transduksi atau aktivasi reseptor. Selanjutnya potensial aksi tersebut akan ditransmisikan menuju neuron susunan saraf pusat yang berhubungan dengan nyeri. Tahap pertama transmisi adalah konduksi impuls dari neuron aferen primer ke kornu dorsalis medulla spinalis, pada kornu dorsalis ini neuron aferen primer bersinap dengan neuron susunan saraf pusat. Dari sini jaringan neuron tersebut akan naik ke atas medulla spinalis menuju batang otak dan thalamus selanjutnya terjadi hubungan timbal balik antara thalamus dan pusat-pusat yang lebih tinggi di otak yang mengurusi respon persepsi dan afektif yang berhubungan dengan nyeri. Terdapat proses modulasi sinyal yang mampu mempengaruhi proses nyeri tersebut tempat modulasi sinyal yang paling diketahui adalah pada kornu dorsalis medulla spinalis. Setelah itu, timbullah persepsi di mana pesan nyeri menuju ke otak dan menghasilkan pengalaman yang tidak menyenangkan.

Stimulasi mosiceptor ini merupakan akibat dari pembebasan berbagai mediator biokimiawi selama proses inflamasi terjadi.

Selain nyeri karena inflamasi, nyeri pada sendi dapat pula disebabkan karena adanya osteofit, bakteri, dan adanya fibrilasi tulang rawan.

Sebenarnya nyeri merupakan mekanisme pertahanan tubuh. Nyeri menjadi sinyal bahwa terdapat kerusakan pada tubuh. Misalnya bertopang dagu dengan tangan kiri dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan aliran darah ke kulit tangan kiri berkurang sehingga terjadi kerusakan jaringan setempat (iskemia) dan timbul rasa nyeri akibat penekanan dagu. Maka kita akan berganti tangan kanan atau berganti posisi. Seandainya kita tidak merasakan nyeri maka kerusakan jaringan akan bertambah luas dan dapat berakibat kematian jaringan.

  1. Differential Diagnosis,,
Penyakitgejala ReumatoidArthritis Osteoarthritis  GOUT Arthritis Septik
Wanita, 35 tahun + +
Nyeri pada jari tangan + + + +
Nyeri  simetris +
Kaku pagi hari + + +
B’langsung 30 mnit – 1 jam +
Demam tidak menggigil +

 

Keterangan :

  • Reumatoid Arthritis    :     Pr > Lk,  25-50 thn,
  • Osteoarthritis              :     > 40thn, nyeri asimetris, kaku <30menit
  • GOUT                         :     demam menggigil, pd wanita biasanya pasca menopause, nyeri asimetris
  • Arthritis Septik           :     demam pada sendi yang terkena

Dari data di atas, dapat disimpulkan bahwa diagnosa penyakit yang dapat menimbulkan gejala-gejala seperti pada skenario yaitu Reumatoid Arthritis (RA).

 

  1. Etiologi dan Patogenesis

AR adalah suatu penyakit inflamasi yang mengenai jaringan ikat sendi, bersifat progresif serta cenderung menjadi menahun.

Kausa AR belum diketahui secara pasti. Namun, ada dua hipotesis (teori yang dimajukan), yaitu autoimun dan infeksi (virus, bakteri, troponema), di mana kedua mekanisme ini saling berhubungan.

Walaupun faktor penyebab maupun patogenesis AR yang sebenarnya hingga kini tetap belum diketahui dengan pasti, faktok genetik seperti produk kompleks histokompatibilitas utama kelas II (HLA-DR) dan beberapa faktor lingkungan telah lama diduga berperan dalam timbulnya penyakit ini.

 

  1. Gejala klinik
  • Kaku pagi hari  ± 1 jam, terutama saat bangun tidur atau setelah lama tidak beraktivitas
  • Poliarthritis (arthritis pada 3 daerah persendian atau lebih)
  • Arthritis pada persendian tangan
  • Arthritis simetris
  • Pembengkakan pergelangan tangan bisa mengakibatkan terjadinya sindroma terowongan karpal
  • Lelah dan lemah terutama menjelang sore hari
  • Di belakang lutut yang terkena, bisa terbentuk kista, yang apabila pecah bisa menyebabkan nyeri dan pembengkakan pada tungkai sebelah bawah
  • Bisa terjadi demam ringan dan kadang terjadi peradangan pembuluh darah (vaskulitis)
  • Nodul rheumatoid
  • Faktor rheumatoid serum positif
  • Perubahan gambaran radiologis

 

 

  1. Predileksi
  • Paling sering mengenai sendi perifer yang berada di tangan dan kaki dan bersifat simetris, seperti :

– articulatio intercarpalis                                  -articulatio carpometacarpalis

– articulatio metacarpophalangealis                 – articulatio interphalangealis

– articulatio carpometatarsalis                         – daerah siku, dan lutut.

  • Selain itu, AR ini juga ternyata bisa menyerang selain dari persendian, antara lain :

–          Mata                                                       – ginjal

–          Kulit                                                       – jantung

–          Susunan saraf pusat                               – usus

–          Hati                                                        – limpa

–    Otot

 

  1. Pemeriksaan yang dapat dilakukan

Membedakan artritis rematoid dari berbagai keadaan lainnya yang bisa menyebabkan artritis, tidaklah mudah.

Keadaan-keadaaan yang menyerupai artritis rematoid adalah:

– Demam rematik

Artritis gonokokal

– Penyakit Lyme

– Sindroma Reiter

Artritis psoriatik

Spondilitis ankilosing

Gout

Pseudogout

Osteoartritis

Oleh karena itu, kita dapat melakukan :

a.       Anamnesis :

–          riwayat keluarga

–          gejala yang dirasakan

–          riwayat pemakaian obat

–          dll

b.      Pemeriksaan fisis

–          Inspeksi bagian sendi yang terkena arthritis

–          Inspeksi bagian lain yang terkena

–          Palpasi bagian yang dicurigai (nyeri atau tidak)

c.       Pemeriksaan laboratorium

–          Pemeriksaan darah

  • 9 dari 10 penderita memiliki laju endap eritrosit yang meningkat
  • sebagian besar menderita anemia
  • kadang jumlah sel darah putih berkurang
  • 7 dari 10 penderita memiliki antibodi yang disebut faktor rematoid; biasanya semakin tinggi kadar faktor rematoid dalam darah, maka semakin berat penyakitnya dan semakin jelek prognosisnya. Kadar antibodi ini bisa menurun jika peradangan sendi berkurang dan akan meningkat jika terjadi serangan.

–          Pemeriksaan cairan sendi.

–          Biopsi nodul.

d.      Pemeriksaan radiologis

Rontgen, bisa menunjukkan adanya perubahan khas pada sendi pasien yang terserang RA.

 

  1. Penatalaksanaan

a.       Prisip dasar : mengistirahatkan sendi yang terkena, karena pemakaian sendi yang terkena akan memperburuk peradangan

b.      Obat-obatan

  • Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS)

–          Memungkinkan stabilisasi membran lisomal

–          Menghambat pembebasan dan aktivitas mediator inflamasi (histamin, serotonin, enzim lisomal, dan enzim lainnya)

–          Menghambat migrasi sel ke tempat peradangan

–          Menghambat proliferasi selular

–          Menetralisasi radikal oksigen

–          Menenkan rasa nyeri

Yang paling banyak digunakan adalah aspirin dan ibuprofen.
Obat ini mengurangi pembengkakan pada sendi yang terkena dan meringankan rasa nyeri.

Aspirin merupakan obat tradisional untuk artritis rematoid; obat yang lebih baru memiliki lebih sedikit efek samping tetapi harganya lebih mahal. Dosis awal adalah 4 kali 2 tablet (325 mgram)/hari.
Telinga berdenging merupakan efek samping yang menunjukkan bahwa dosisnya terlalu tinggi. Gangguan pencernaan dan ulkus peptikum, yang merupakan efek samping dari dosis yang terlalu tinggi, bisa dicegah dengan memakan makanan atau antasid atau obat lainnya pada saat meminum aspirin.

Misoprostol bisa membantu mencegah erosi lapisan lambung dan pembentukan ulkus gastrikum, tetapi obat ini juga menyebabkan diare dan tidak mencegah terjadinya mual atau nyeri perut karena aspirin atau obat anti peradangan non-steroid lainnya.

  • Obat slow-acting

Obat slow-acting kadang merubah perjalanan penyakit, meskipun perbaikan memerlukan waktu beberapa bulan dan efek sampingnya berbahaya. Pemakaiannya harus dipantau secara ketat.

Obat ini biasanya ditambahkan jika obat anti peradangan non-steroid terbukti tidak efektif setelah diberikan selama 2-3 bulan atau diberikan segera jika penyakitnya berkembang dengan cepat.

  • Kortikosteroid

Kortikosteroid (misalnya prednison) merupakan obat paling efektif untuk mengurangi peradangan di bagian tubuh manapun.
Kortikosteroid efektif pada pemakaian jangka pendek dan cenderung kurang efektif jika digunakan dalam jangka panjang, padahal artritis rematoid adalah penyakit yang biasanya aktif selama bertahun-tahun. Untuk menghindari resiko terjadinya efek samping, maka hampir selalu digunakan dosis efektif terendah

  • Imunosupresif

Obat imunosupresif (contohnya metotreksat, azatioprin dan cyclophosphamide) efektif untuk mengatasi artritis rematoid yang berat.
Obat ini menekan peradangan sehingga pemakaian kortikosteroid bisa dihindari atau diberikan kortikosteroid dosis rendah.

Efek sampingnya berupa penyakit hati, peradangan paru-paru, mudah terkena infeksi, penekanan terhadap pembentukan sel darah di sumsum tulang dan perdarahan kandung kemih (karena siklofosfamid).
Selain itu azatioprine dan siklofosfamid bisa meningkatkan resiko terjadinya kanker.

Metotreksat diberikan per-oral (ditelan) 1 kali/minggu, digunakan untuk mengobati artritis rematoid stadium awal.

Siklosporin bisa digunakan untuk mengobati artritis yang berat jika obat lainnya tidak efektif.

c. Pendidikan

Penerangan tentang kemungkinan faktor etiologi, patogenesis, riwayat alamiah penyakit dan penatalaksanaan AR kepada pasien merupakan hal yang amat penting untuk dilakukan. Dengan penerangan yang baik mengenai penyakitnya, pasien AR diharapkan dapat melakukan kontrol atas perubahan emosional, motivasi, dan kognitif yang terganggu akibat penyakitnya.

Peningkatan pengetahuan pasien tentang penyakitnya telah terbukti akan meningkatkan motivasinya untuk melakukan latihan yang dianjurkan, sehingga dapat mengurangi rasa nyeri yang dialami.

d.      Terapi lainnya

Bersamaan dengan pemberian obat untuk mengurangi peradangan sendi, bisa dilakukan latihan-latihan, terapi fisik, pemanasan pada sendi yang meradang dan kadang pembedahan.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Dapat mengetahui dan memahami hal-hal yang terdapat pada Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) dan Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) dari modul pertama PBL sistem musukuloskeletal seperti patomekanisme, penyakit-penyakit yang menyebabkan nyeri sendi, gejala-gejalanya, dan penatalaksanaan dari penyakit tersebut dengan menggali dan mencari informasi- informasi yang berkaitan, baik dari bahan ajar, buku-buku penunjang, maupun internet.

 

INFORMASI BARU

Gejala klinik yang dimiliki oleh penderita dalam skenario ternyata juga dimiliki oleh beberapa penyakit  dan hal ini sering mengacaukan penegakan diagnosis.

Adapun beberapa penyakit yang memungkinkan adalah :

Osteoarthritis

Osteoartritis (Artritis Degeneratif, Penyakit Sendi Degeneratif) adalah suatu penyakit sendi menahun yang ditandai dengan adanya kemunduran pada tulang rawan (kartilago) sendi dan tulang di dekatnya, yang bisa menyebabkan nyeri sendi dan kekakuan. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 50 tahun. Bisa terjadi pada pria dan wanita, tetapi pria bisa terkena pada usia yang lebih muda.

Etiologi

Osteoartritis kemungkinan berawal ketika suatu kelainan terjadi pada sel-sel yang membentuk komponen tulang rawan, seperti kolagen (serabut protein yang kuat pada jaringan ikat) dan proteoglikan (bahan yang membentuk daya lenting tulang rawan).

Selanjutnya tulang rawan tumbuh terlalu banyak, tetapi pada akhirnya akan menipis dan membentuk retakan-retakan di permukaan. Rongga kecil akan terbentuk di dalam sumsum dari tulang yang terletak dibawah kartilago tersebut, sehingga tulang menjadi rapuh. Tulang mengalami pertumbuhan berlebihan di pinggiran sendi dan menyebabkan benjolan (osteofit), yang bisa dilihat dan bisa dirasakan. Benjolan ini mempengaruhi fungsi sendi yang normal dan menyebabkan nyeri.

Pada akhirnya, permukaan tulang rawan yang halus dan licin berubah menjadi kasar dan berlubang-lubang, sehingga sendi tidak lagi dapat bergerak secara halus. Semua komponen sendi (tulang, kapsul sendi, jaringan sinovial, tendon dan tulang rawan) mengalami kegagalan dan terjadi kelainan sendi.

Osteoartritis dikelompokkan menjadi:

–   Osteoartritis primer, jika penyebabnya tidak diketahui

Osteoartritis sekunder, jika penyebabnya adalah penyakit lain (misalnya penyakit Paget atau ineksi, kelainan bentuk, cedera atau penggunaan sendi yang berlebihan).

Predileksi

Adanya predileksi OA pada sendi2 tertentu (carpometacarpal I, metatarsophalangeal I, sendi apoficeal,tulang belakang, lutu, dan paha) adalah nyata. Sebagai perbandingan, OA siku, pergelangan tangan, glenohumeral atau pegelangan kaki jarang sekali dan terutama terbatas pada orang tua.

 

Faktor Resiko

  • Umur
  • Jenis kelamin
  • Suku bangsa
  • Genetik
  • Kegemukan
  • Cedera sendi, pkerjaan dan olahraga
  • Kelainan pertumbuhan
  • Faktor2 lain

Gejala klinik

a.       Kaku saat bangun tidur <30 menit

b.      Gejala biasanya timbul secara bertahap dan pada awalnya hanya mengenai satu atau sedikit sendi. Yang sering terkena adalah sendi jari tangan, pangkal ibu jari, leher, punggung sebelah bawah, jari kaki yang besar, panggul dan lutut.

c.       Pertumbuhan baru dari tulang, tulang rawan dan jaringan lainnya bisa menyebabkan membesarnya sendi, dan tulang rawan yang kasar menyebabkan terdengarnya suara gemeretak pada saat sendi digerakkan (krepitasi)

d.      Pertumbuhan tulang (nodus Herbeden) sering terjadi pada sendi di ujung jari tangan

e.       Kadang pembuluh darah yang menuju ke otak bagian belakang tertekan, sehingga timbul gangguan penglihatan, vertigo, mual dan muntah

f.       Pertumbuhan tulang juga bisa menekan kerongkongan dan menyebabkan kesulitan menelan

Penatalaksanaan

  • Olah raga yang tepat (termasuk peregangan dan penguatan) akan membantu mempertahankan kesehatan tulang rawan, meningkatkan daya gerak sendi dan kekuatan otot-otot di sekitarnya sehingga otot menyerap benturan dengan lebih baik
  • Dianjurkan untuk menggunakan kursi dengan sandaran yang keras, kasur yang tidak terlalu lembek dan tempat tidur yang dialasi dengan papan
  • Untuk osteoartritis pada tulang belakang, dilakukan olah raga khusus dan jika penyakitnya berat, bisa digunakan penopang punggung
  • Terapi fisik yang sering dilakukan adalah dengan pemanasan.
    Untuk nyeri pada jari tangan dianjurkan merendam tangan dalam campuran parafin panas dengan minyak mineral pada suhu 47,8-52° Celsius atau mandi dengan air hangat.
  • Obat merupakan aspek yang tidak terlalu penting. .

Obat pereda nyeri (misalnya acetaminofen) mungkin merupakan satu-satunya obat yang diperlukan.

Obat anti peradangan non-steroid (misalnya Aspirin atau ibuprofen) bisa diberikan untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan.

  • Jika pengobatan lainnya gagal, bisa dilakukan pembedahan.
    Beberapa sendi (terutama sendi panggul dan lutut) bisa diganti dengan sendi buatan.

 

GOUT

Gout adalah suatu penyakit yang ditandai dengan serangan mendadak dan berulang dari artritis yang terasa sangat nyeri karena adanya endapan kristal monosodium urat, yang terkumpul di dalam sendi sebagai akibat dari tingginya kadar asam urat di dalam darah (hiperurisemia).

 

Etiologi

Dalam keadaan normal, beberapa asam urat (yang merupakan hasil pemecahan sel) ditemukan dalam darah karena tubuh terus menerus memecahkan sel dan membentuk sel yang baru dan karena makanan yang dikonsumsi mengandung cikal bakal asam urat. Kadar asam urat menjadi sangat tinggi jika ginjal tidak dapat membuangnya melalui air kemih.

Tubuh juga bisa menghasilkan sejumlah besar asam urat karena adanya kelainan enzim yang sifatnya diturunkan atau karena suatu penyakit (misalnya kanker darah), dimana sel-sel berlipatganda dan dihancurkan dalam waktu yang singkat. Beberapa jenis penyakit ginjal dan obat-obatan tertentu mempengaruhi kemampuan ginjal untuk membuang asam urat

 

Gejala klinik

  • Serangan gout (artritis gout akut) terjadi secara mendadak
  • Nyeri yang hebat dirasakan oleh penderita pada satu atau beberapa sendi, seringkali terjadi pada malam hari; nyeri semakin memburuk dan tak tertahankan
  • Sendi membengkak dan kulit diatasnya tampak merah atau keunguan, kencang dan licin, serta teraba hangat
  • Menyentuh kulit diatas sendi yang terkena bisa menimbulkan nyeri yang luar biasa
  • Penyakit ini paling sering mengenai sendi di pangkal ibu jari kaki dan menyebabkan suatu keadaan yang disebut podagra
  • Demam, menggigil, perasaan tidak enak badan dan tachicardi
  • Gout cenderung lebih berat pada penderita yang berusia dibawah 30 tahun.
    Biasanya pada pria gout timbul pada usia pertengahan, sedangkan pada wanita muncul pada saat pasca menopause
  • Serangan pertama biasanya hanya mengenai satu sendi dan berlangsung selama beberapa hari. Gejalanya menghilang secara bertahap, dimana sendi kembali berfungsi dan tidak timbul gejala sampai terjadi serangan berikutnya.
  • Bisa terjadi gout menahun dan berat, yang menyebabkan terjadinya kelainan bentuk sendi.

 

Diagnosis

    1. Anamnesis

Menenyakan

    1. Pemeriksaan fisis

Diagnosis seringkali ditegakkan bedasarkan gejalanya yang khas

    1. Pemeriksaan penunjang

Ditemukannya kadar asam urat yang tinggi di dalam darah akan memperkuat diagnosis. Tetapi pada suatu serangan akut, kadar asam urat seringkali normal.

Pada pemeriksaan terhadap contoh cairan sendi dibawah mikroskop khusus akan tampak kristal urat yang berbentuk seperti jarum

 

Penatalaksanaan

  • Langkah pertama untuk mengurangi nyeri adalah mengendalikan peradangan. Pengobatan tradisional untuk gout adalah kolkisin
  • Pada GOUT akut, alucrinol Tidak Boleh diberikan
  • Saat ini obat anti peradangan non-steroid (misalnya ibuprofen dan indometasin) lebih banyak digunakan daripada kolkisin dan sangat efektif mengurangi nyeri dan pembengkakan sendi
  • Kadang obat pereda nyeri ditambahkan untuk mengendalikan nyeri (misalnya kodein dan meperidin).
  • Obat-obat seperti probenesid atau sulfinpirazon berfungsi menurunkan kadar asam urat dalam darah dengan jalan meningkatkan pembuangan asam urat ke dalam air kemih.
  • Aspirin menghambat efek probenesid dan sulfinpirazon, sehingga sebaiknya tidak digunakan pada saat yang bersamaan. Jika diperlukan obat pereda nyeri, lebih baik diberikan asetaminofen atau obat anti peradangan non-steroid (misalnya ibuprofen).
  • Jika pembuangan asam urat meningkat, dianjurkan untuk minum banyak air (minimal 2 liter/hari) untuk membantu mengurangi resiko kerusakan sendi dan ginjal

 

Arthritis septic

Arthritis septik atau pyogenic arthritis adalah infeksi sendi yang serius yang memiliki ciri nyeri, demam, peradangan, dan pembengkakan. Pada satu sendi atau lebih dan kehilangan fungsi dari sendi tersebut.

Etiologi

Terdapat mikro organisme di dalam membran sinovial, baik lewat darah, penetrating trauma, maupun iatrogenic. Adapun bakteri-bakteri yang dapat menyebabkan terjadinya arthritis septic, antara lain :

 

Gejala klinik

a.       Nyeri sendi

b.      Demam pada bagian sendi yang terlibat

c.       Terkadang ada perasaan mual dan muntah

 

Diagnosis

a.       Anamnesis

Gejala-gejala yang dialami

Medical history

b.      Pemeriksaan fisis

c.       Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan cairan sinovial yang tinggi kadarnya

Pemeriksaan darah

 

Penatalaksanaan

  • Memberikan antibiotik intravenous untuk membunuh bakteri secepat mungkin
  • Mengambil cairan sendi yang terinfeksi

 

Reumatoid Arthritis

AR adalah suatu penyakit inflamasi yang mengenai jaringan ikat sendi, bersifat progresif serta cenderung menjadi menahun.

 

Etiologi

Kausa AR belum diketahui secara pasti. Namun, ada dua hipotesis (teori yang dimajukan), yaitu autoimun dan infeksi (virus, bakteri, troponema), di mana kedua mekanisme ini saling berhubungan.

Walaupun faktor penyebab maupun patogenesis AR yang sebenarnya hingga kini tetap belum diketahui dengan pasti, faktok genetik seperti produk kompleks histokompatibilitas utama kelas II (HLA-DR) dan beberapa faktor lingkungan telah lama diduga berperan dalam timbulnya penyakit ini.

 

Predileksi

Paling sering mengenai sendi perifer yang berada di tangan dan kaki dan bersifat simetris.

Selain itu, AR ini juga ternyata bisa menyerang selain dari persendian, antara lain mata, kulit, susunan saraf pusat, hati, oto, ginjal, jantung, usu, dan limpa.

 

Gejala klinik

  • Kaku pagi hari  ± 1 jam, terutama saat bangun tidur atau setelah lama tidak beraktivitas
  • Poliarthritis (arthritis pada 3 daerah persendian atau lebih)
  • Arthritis pada persendian tangan
  • Arthritis simetris
  • Pembengkakan pergelangan tangan bisa mengakibatkan terjadinya sindroma terowongan karpal
  • Lelah dan lemah terutama menjelang sore hari
  • Di belakang lutut yang terkena, bisa terbentuk kista, yang apabila pecah bisa menyebabkan nyeri dan pembengkakan pada tungkai sebelah bawah
  • Bisa terjadi demam ringan dan kadang terjadi peradangan pembuluh darah (vaskulitis)
  • Nodul rheumatoid
  • Faktor rheumatoid serum positif
  • Perubahan gambaran radiologis

 

Diagnosis

a. Anamnesis, seperti menanyakan riwayat keluarga, gejala-gejala yang dirasakan, dan riwayat pemakaian obat, dll

b.            Pemeriksaan fisis,  seperti inspeksi bagian sendi yang terkena arthritis dan palpasi bagian yang dicurigai (nyeri atau tidak)

c. Pemeriksaan laboratorium

– Pemeriksaan darah :

  • 9 dari 10 penderita memiliki laju endap eritrosit yang meningkat
  • sebagian besar menderita anemia
  • kadang jumlah sel darah putih berkurang
  • 7 dari 10 penderita memiliki antibodi yang disebut faktor rematoid; biasanya semakin tinggi kadar faktor rematoid dalam darah, maka semakin berat penyakitnya dan semakin jelek prognosisnya. Kadar antibodi ini bisa menurun jika peradangan sendi berkurang dan akan meningkat jika terjadi serangan.

–    Pemeriksaan cairan sendi.

–    Biopsi nodul.

d. Pemeriksaan radiologis, seperti rontgen bisa menunjukkan adanya perubahan khas pada sendi pasien yang terserang RA.

 

 

Penatalaksanaan

  • Prisip dasar : mengistirahatkan sendi yang terkena, karena pemakaian sendi yang terkena akan memperburuk peradangan

o   Obat-obatan

§  Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS)

§  Obat slow-acting

§  Kortikosteroid

§  Imunosupresif

o   Pendidikan

Penerangan tentang kemungkinan faktor etiologi, patogenesis, riwayat alamiah penyakit dan penatalaksanaan AR kepada pasien merupakan hal yang amat penting untuk dilakukan. Dengan penerangan yang baik mengenai penyakitnya, pasien AR diharapkan dapat melakukan kontrol atas perubahan emosional, motivasi, dan kognitif yang terganggu akibat penyakitnya.

o   Terapi lainnya

Bersamaan dengan pemberian obat untuk mengurangi peradangan sendi, bisa dilakukan latihan-latihan, terapi fisik, pemanasan pada sendi yang meradang dan kadang pembedahan.

 

KESIMPULAN

Pada kasus di skenario 3 ini, pasien menunjukkan gejala-gejala seperti yang disebutkan di atas. Terdapat beberapa diagnosis banding yang diperoleh dari melihat gejala- gejala tersebut, antara lain :

Y    Reumatoid Arthritis

Y    Osteoarthritis

Y    GOUT

Y    Arthritis septic

Adapun gejala-gejala yang dialami oleh pasien dalam skenario :

  • Wanita 35 tahun
  • Nyeri pada jari tangan kiri dan kanan (simetris)
  • Kaku pagi hari (30mnt-1jam)
  • Demam tidak menggigil

Dari pembahasan yang diperoleh, maka gejala-gejala pada pasien tersebut lebih cenderung ke arah penyakit Reumatoid Arthritis (RA).

Daftar pustaka

Faridin, Dr., 2008. Bahan Kuliah Reumatoid Arthritis. Makassar

Faridin, Dr., 2008. Bahan Kuliah Osteoarthritis. Makassar

Faridin, Dr., 2008. Bahan Kuliah GOUT. Makassar

Harfiah, Dr., 2008. Bahan Kuliah Inervasi Ekstremitas Inferior dan Superior. Makassar

Sudoyo, Aru., 2007, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III, Departemen IPD FK UI : Jakarta

http://dikkyz.blogspot.com/2007/12/nyeri-sebagai-mekanisme-pertahanan.html

http://www.labtestsonline.org/understanding/conditions/septic.html

http://www.eorthopod.com

http://www.kalbe.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: