siklus hidup


KATA KUNCI SKENARIO 2

  • Anak laki- laki belum bisa duduk
  • Bayi lahir prematur
  • Pada waktu lahir segera menangis dengan berat badan 1750 gr, Lingkar Kepala 30 cm
  • Imunitas usia 1 tahun lengkap
  • BB sekarang 10 kg(10000 gr),PB 79 cm,LK 36 cm
  • Dalam sehari mendapat SF 6-8 botol/hari
  • Anak tengkurap pada usia 9 bulan
  • Belum bisa mengunyah dan tersedak
  • Terdapat strabismus kiri ,riwayat usia 3 hari anak mulai kuning dan makin hebat sampai seluruh badan pada umur 10 hari , anak tidak pernah kenyang
  • Sekarang dapat menyebut mama,papa,susu, tapi tak jelas
  • Saat dipanggil anak tersenyum
  • Ibu sakit sewaktu hamil 5 bulan

PERTANYAAN SKENARIO 2 :

1. Bagaimana status gizi anak tersebut?

2. Apa yang menyebabkan anak tersebut belum bisa duduk, jika dilihat dari usianya?

3. Apakah pemberian SF 6-8/hari sudah mencukupi status gizi?

4. Apakah ada hubungan anak ikterus dengan kondisi anak sekarang

SKENARIO 2

1.Status gizi
  •  Berdasarkan grafik pertumbuhan di atas, dilihat dari kenaikan berat badan tiap bulan yakni :
  • BB pada saat lahir = 3,5 Kg
  • BB saat dua bulan = 4,5 Kg
  • BB saat tiga bulan = 4,8 Kg
  • BB pada saat pemeriksaan = 5,1 Kg
  • Ø Kebutuhan dasar untuk tumbuh kembang bayi optimal ada 3 yaitu :

1.   Kebutuhan fisis-biologis ( Asuh )

                Meliputi kebutuhan sandang, pangan, papan seperti: nutrisi, imunisasi, kebersihan tubuh & lingkungan, pakaian, pelayanan/pemeriksaan kesehatan dan pengobatan, olahraga, bermain dan beristirahat

          2. Kebutuhan kasih sayang dan emosi ( Asih )

 Anak memerlukan kasih sayang melalui hubungan yang erat, serasi dan selaras dengan ibunya. Memberi kasih sayang akan sangat membantu tumbuh kembang fisik-mental dan psikososial anak yang optimal.

3.Kebutuhan stimulasi ( Asah )

 Untuk memperoleh perkembangan yang optimal, anak perlu ‘diasah’ melalui kegiatan stimulasi dini untuk mengembangkan sedini mungkin kemampuan sensorik, motorik, emosi-sosial, bicara, kognitif, kemandirian, kreativitas, kepemimpinan, moral dan spiritual.

2 Penyebab anak tersebut belum bisa duduk, jika dilihat dari usianya pada skenario tersebut 1 tahun 8 bulan anak tersebut lahir prematur di mana organ-organ tersebut belum tumbuh sempurna karna bayi lahir sebelum waktunya ,jika di lihat dari anak tersebut pernah mengalami ikterus prematoritas di mana umumnya ikterus muncul pada bayi prematur belum bisa mengeluarkan bilirubin secara efektif ,saat terjadi peningkatan bilirubin dalam darah / hiperbilirubin dan menjadi kerniikterus kemungkinan bisa menyerang cerebellum,pons,medulla oblongata,fase awal adalah terjadi toksin hiperbilirubinnemia susah menelan,rewel,hipotoni (lemah tungkai)

5.PEMILIHAN SUSU FORMULA TERBAIK

Susu formula bayi adalah cairan atau bubuk dengan formula tertentu yang diberikan pada bayi dan anak-anak. Mereka berfungsi sebagai pengganti ASI. Susu formula memiliki peranan yang penting dalam makanan bayi karena seringkali bertindak sebagai satu-satunya sumber gizi bagi bayi. Karenanya, komposisi susu formula yang diperdagangkan dikontrol dengan hati-hati dan FDA (Food and Drugs Association/Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika) mensyaratkan produk ini harus memenuhi standar ketat tertentu.

 Secara umum prinsip pemilihan susu yang tepat dan baik untuk anak adalah susu yang sesuai dan bisa diterima sistem tubuh anak. Susu terbaik harus tidak menimbulkan gangguan saluran cerna seperti diare, muntah atau kesulitan buang air besar. Susu yang terbaik juga harus tidak menimbulkan gangguan lainnya seperti batuk, sesak, gangguan kulit dan sebagainya. Penerimaan terhadap susu pada setiap anak sangat berbeda. Anak tertentu bisa menerima susu A, tetapi anak lainnya bila minum susu A terjadi diare atau muntah.

Pada skenario d atas dikatakan umur anak tersebut 1 tahun 8 bulan,d sini pada anak tersebut STATUS GIZI anak tersebut CUKUP kenapa saya katakan cukup karena pada umur 1 tahun 8 bulan anak tidak minum ASI sehingga anak tersebut membutuhkan SUSU FORMULA yanh menunjang status gizi anak tersebut.di mana dlm SUSU FORMULA tersebut kandungan protein susu sapi (kasein), laktosa, gluten, zat warna, aroma rasa (vanila, coklat, strawberi, madu dll), komposisi lemak, kandungan DHA, minyak jagung, minyak kelapa sawit dan sebagainya.

Penambahan AA, DHA, Spingomielin pada susu formula sebenarnya tidak merupakan pertimbangan utama pemilihan susu yang terbaik. Penambahan zat yang diharap berpengaruh terhadap kecerdasan anak memang masih sangat kontroversial. Banyak penelitian masih bertolak belakang untuk menyikapi pendapat tersebut. Beberapa penelitian menunjukkan pemberian AA dan DHD pada penderita prematur tampak lebih bermanfaat. Sedangkan pemberian pada bayi cukup bulan (bukan prematur) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna mempengaruhi kecerdasan. Sehingga ESPGAN, British Nutrition Foundation, dan WHO/FAO hanya merekomendasikan pemberian AA dan DHA hanya pada bayi prematur saja.,

1. Bayi tidak bisa duduk jika di lihat berdasarkan usianya karena di sebabkan oleh beberapa faktor:

  • Ø Bayi lahir prematur dimana kondisi organ-organ belum tumbuh sempurna.
  • Ø Di lihat dari riwayat kelahiran bayi yang pernah mengalami ikterus pada usia 3 hari dan makin hebat pada umur 10 hari. Pada Ikterus fisiologis umumnya terjadi pada hari kedua dan hari ketiga namun berdasarkan skenario ini terjadi IKTERUS PREMATURITAS yaitu Pemberian nutrisi pada bayi yang kurang.

5.dalam skenario tersebut ada hubungannya ikterus dengan kondisi anak sekarang Yang perlu kita ketahui bahwa :

I. Definisi

Ikterus adalah menguningnya sklera, kulit atau jaringan lain akibat penimbunan bilirubin dalam tubuh atau akumulasi bilirubin dalam darah lebih dari 5 mg/dl dalam 24 jam, yang menandakan terjadinya gangguan fungsional dari hepar, sistem biliary, atau sistem hematologi. Ikterus dapat terjadi baik karena peningkatan bilirubin indirek ( unconjugated ) dan direk ( conjugated ) .

II. Etiologi

Hiperbilirubinemia dapat disebabkan oleh bermacam-macam keadaan. Penyebab yang tersering ditemukan disini adalah hemolisis yang timbul akibat inkompabilitas golongan darah ABO atau defisiensi enzim G6PD. Hemolisis ini juga dapat timbul akibat perdarahan tertutup (hematom cefal, perdarahan subaponeurotik) atau inkompabilitas darah Rh, infeksi juga memegang peranan penting dalam terjadinya hiperbilirubinemia; keadaan ini terutama terjadi pada penderita sepsis dan gastroenteritis. Beberapa faktor lain adalah hipoksia/anoksia, dehidrasi dan asidosis, hipoglikemia, dan polisitemia.

III. Epidemiologi

Pada sebagian besar neonatus, ikterik akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. Dikemukan bahwa angka kejadian iketrus terdapat pada 60 % bayi cukup bulan dan 80 % bayi kurang bulan. Ikterus ini pada sebagian penderita dapat berbentuk fisiologik dan sebagian lagi patologik yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan kematian.

IV. Patolofisiologi

Bilirubin merupakan produk yang bersifat toksik dan harus dikeluarkan oleh oleh tubuh. Sebagian besar hasil bilirubin berasal dari degredasi hemoglobin darah dan sebagian lagi berasal dari hem bebas atau dari proses eritropoesis yang tidak efektif. Pembentukan bilirubin tadi dimulai dengan proses oksidasi yang menghasilkan biliverdin serta beberapa zat lain. Biliverdin inilah yang mengalami reduksi dan menjadi bilirubin bebas atau bilirubin IX alfa. Zat ini sulit larut dalam air tetapi larut dalam lemak, karena mempunyai sifat lipofilik yang sulit diekskresi dan mudah melalui membrane biologic seperti placenta dan sawar darah otak. Bilirubin bebas tersebut kemudian bersenyawa dengan albumin dan dibawa ke hepar. Dalam hepar terjadi mekanisme ambilan, sehingga bilirubin terikat dengan oleh reseptor membran sel hati dan masuk ke dalam sel hati. Segera setelah ada dalam sel hati, terjadi persenyawaan dengan ligandin ( protein-Y), protein-Z, dan glutation hati lain yang membawanya ke reticulum endoplasma hati, tempat terjadinya proses konjugasi. Proses ini timbul berkat adanya enzim glukoronil transferase yang kemudian menghasilkan bentuk bilirubin direk. Jenis bilirubin ini larut dalam air dan pada kadar tertentu dapat diekskresikan melalui ginjal. Sebagian besar bilirubin yang terkonjugasi ini diekskesi melalui duktus hepatikus ke dalam saluran pencernaan dan selanjutnya menjadi urobilinogen dan keluar dari tinja sebagai sterkobilin. Dalam usus sebagian diarbsorbsi kembali oleh mukosa usus dan terbentuklah proses arbsorpsi enterohepatik.

Sebagian besar neonatus mengalami peningkatan kadar bilirubin indirek pada hari-hari pertama kehidupan. Hal ini terjadi karena terdapatnya proses fisiologik tertentu pada neonatus. Proses tersebut antara lain karena tingginya kadar eritrosit neonatus, masa hidup eritrosit yang lebuh pendek (80 – 90 hri ), dan belum matangnya fungsi hepar.

Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Kejadian tersering adalah apabila terdapat pertambahan beban bilirubin pada sel hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia, memendeknya umur eritrosit bayi/janin, meningkatnya bilirubin dari sumber lain, atau terdapatnya peningkatan sirkulasi enterohepatik.

Gangguan ambilan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein-Y berkurang atau pada keadaan protein-Y dan protein-Z terikat oleh anion lain, misalkan pada bayi dengan asidosis atau keadaan anoksia/hipoksia. Keadaan lain yang dapat memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan konjugasi hepar ( defisiensi enzim glukoronil transferase ) atau bayi menderita gangguan eksresi, misalnya penderita hepatitis neonatal atau sumbatan saluran empedu ekstra/intrahepatik.

DAFTAR PUSTAKA

  • · Dr. soetijiningsih,Sp.AK,1995,Tuumbuh Kembang Anak,EGC
  • · Kamus Dorlan edisi 29
  • · Price dan Wilson,2006,Patofisiologi edisi 6 jilid 1,EGC
SKENARIO LAINNYA :

pertumbuhan anak sejak lahir sampai sekarang

 Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.

Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian.

 Ukuran tubuh:
 BB Lahir : 3500 gr
 PB Lahir : 50 cm
 LK Lahir : 34 cm
 BB Sekarang : 5100 gr
 PB Sekarang : 55 cm
 LK Sekarang : 38 cm
 -  Pertambahan BB
 Triwulan 1 : 700 gr × 3 bln = 2100 gr
 Triwulan 2 : 500 gr × ½ bln = 250 gr + 2350 gr
 Normal BB = BBL + 2350 gr= 3500 + 2350 gr =5850 gr
 - Pertambahan PB
 Triwulan 1 : 2,8 × 3 = 8,4 cm
 Triwulan 2 : 1,9 × ½ = 0,95 cm +9,35 cm
 Normal PB = PBL + 9,35 cm= 50 + 9,35 cm = 59,35 cm
-  Pertambahan LK : 3,5 × 1 cm = 3,5 cm
   Normal LK = LKL × 3,5 cm = 37,5 cm

2. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan

Faktor dalam (internal) yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak.

 1. Ras/etnik atau bangsa.
 Anak yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika, maka ia tidak memiliki faktor herediter ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya.
 2. Keluarga.

Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi, pendek, gemuk atau kurus.

3. Umur.

 Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun pertama kehidupan dan masa remaja.

4. Jenis kelamin.

 Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat daripada laki-laki. Tetapi setelah melewati masa pubertas, pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat.

5. Genetik.

 Genetik (heredokonstitusional) adalah bawaan anak yaitu potensi anak yangakan menjadi ciri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak seperti kerdil.
 a. Kelainan kromosom.
 Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan pertumbuhan seperti pada sindroma Down’s dan sindroma Turner’s.

- Faktor luar (eksternal).

1. Faktor Prenatal

a. Gizi

Nutrisi ibu hamil terutama dalam trimester akhir kehamilan akan mempengaruhi pertumbuhan janin.

 b. Mekanis
 Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan kongenital seperti club foot.
 c. Toksin/zat kimia
 Beberapa obat-obatan seperti Aminopterin, Thalidomid dapat menyebabkan kelainan kongenital seperti palatoskisis.
 d. Endokrin
 Diabetes melitus dapat menyebabkan makrosomia, kardiomegali, hiperplasia adrenal.
 e. Radiasi
 Paparan radium dan sinar Rontgen dapat mengakibatkan kelainan pada janin seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi mental dan deformitas anggota gerak, kelainan kongential mata, kelainan jantung.
 f. Infeksi
 Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH (Toksoplasma, Rubella, Sitomegalo virus, Herpes simpleks) dapat menyebabkan kelainan pada janin: katarak, bisu tuli, mikrosefali, retardasi mental dan kelainan jantung kongenital.
 g. Kelainan imunologi

Eritobaltosis fetalis timbul atas dasar perbedaan golongan darah antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibodi terhadap sel darah merah janin, kemudian melalui plasenta masuk dalam peredaran darah janin dan akan

 menyebabkan hemolisis.
 h. Anoksia embrio
 Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi plasenta menyebabkan pertumbuhan terganggu.
 i. Psikologi ibu
 Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakuan salah/kekerasan mental pada ibu hamil dan lain-lain.
2. Faktor Persalinan
 Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak.
 3. Faktor Pascasalin
 a. Gizi
 Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang adekuat.
 b. Penyakit kronis/ kelainan kongenital
 Tuberkulosis, anemia, kelainan jantung bawaan mengakibatkan retardasi pertumbuhan jasmani.
 c. Lingkungan fisis dan kimia.
 Lingkungan sering disebut melieu adalah tempat anak tersebut hidup yang berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak (provider). Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnya sinar matahari, paparan sinar radioaktif, zat kimia tertentu (Pb, Mercuri, rokok, dll) mempunyai dampak yang negatif terhadap pertumbuhan anak.
 d. Psikologis
 Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak yang tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu merasa tertekan, akan mengalami hambatan di dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
 e. Endokrin
 Gangguan hormon, misalnya pada penyakit hipotiroid akan menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan.
 f. Sosio-ekonomi
 Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan, kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan, akan menghambat pertumbuhan anak.
 g. Lingkungan pengasuhan
 Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-anak sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak.
 h. Stimulasi
 Perkembangan memerlukan rangsangan/stimulasi khususnya dalam keluarga, misalnya penyediaan alat mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan anak.
 i. Obat-obatan
 Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan menghambat pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat perangsang terhadap susunan saraf yang menyebabkan terhambatnya produksi hormon pertumbuhan.
 3. Hubungan kondisi anak sekarang dengan riwayat kelahiran
 Menurut WHO “Asfiksia neonatorum” adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan ini disertai dengan hipoksia, hiperkania, dan berakhir dengan asidosis. Hipoksia yang terdapat pada penderita asfiksia ini merupakan factor terpenting yang dapat adaptasi bayi baru lahir terhadap kehidupan ekstrauterin. Asfiksia biasanya disertai Hipoksia.Hipoksia janin menyebabkan asfiksia neonatorum.Hal ini terjadi karena gangguan pertukaran gas serta transport O2 dari ibu kejanin sehingga terdapat gangguan dalam persediaan O2 dan dalam menghilangkan CO2. Gangguan ini dapat berlangsung secara menahun akibat kondisi atau kelainan pada ibu selama kehamilan, atau secara menadaak karenahal-hal yang diderita ibu dalam persalinan.

Berikut adalah patofisiologi dari hipoksia.Yang mana telah diketahui bahwa hipoksia dapat menyebabkan asfiksia.

 Hipoksia
 Penimbunan Co2
 Asidosis rewspiratorik

Metabolisme anaerob glikolisis Cadangan : – Miokardium

 Asam Piruvat – Hati

Asam Laktat – Otak

Asidosis Metabolik Gangguan Kardiovaskuler

Gangguan Sel-sel otak

4. pemberian makanan atau asupan makanan yang diberikan terhadap anak tersebut, dapat kita ketahui berdasarkan kebutuhan dasar anak itu semdiri apakah sudah terpenuhi. kebutuhan dasar ini juga menjawab usaha apa yang dilakukan agar anak tumbuh kembang optimal.

1. Kebutuhan asuh

a. Nutrient

Berdasarkan scenario kebutuhan nutrient anak sama sekali tak cukup. Anak usia 3 bulan seharusnya hanya mendapatkan ASI hingga usia 6 bulan karna ASI lah nutrisi yang paling baik untuk usianya tersebut

b.Imunisasi: anak perlu diberikan imunisasi dasar lengkap agar terlindung dari penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

c. Kebersihan: meliputi kebersihan makanan, minuman,udara, pakaian, rumah, sekolah, tempat bermain dan transportasi.

d. Bermain, aktivitas fisik, tidur: anak perlu bermain, melakukan aktivitas fisik dan tidur karena hal ini bermanfaat untuk:
- merangsang hormon pertumbuhan, nafsu makan, merangsang metabolisme
karbohidrat, lemak, dan protein
- merangsang pertumbuhan otot dan tulang
- merangsang perkembangan

e. Pelayanan Kesehatan: anak perlu dipantau/diperiksa kesehatannya secara teratur (bukan kendaraan aja yang perlu diperiksa teratur, anak juga perlu). Contoh pelayanan kesehatan yang teratur pada anak Balita adalah: anak ditimbang minimal 8 kali setahun, dilakukan SDIDTK minimal 2 kali setahun dan diberikan kapsul Vitamin A dosis tinggi 2 kali setahun yaitu setiap bulan Februari dan Agustus. Tujuan pemantauan yang teratur untuk:
- mendeteksi secara dini dan menanggulangi bila ada penyakit dan gangguan tumbuh-kembang
- mencegah penyakit
- memantau pertumbuhan dan perkembangan anak.

2. Kebutuhan asih

a. Kebutuhan akan kasih sayang

b. Anak memerlukan kasih sayang melalui hubungan yang erat, serasi dan selaras dengan ibunya. Memberi kasih sayang akan sangat membantu tumbuh kembang fisik-mental dan psikososial anak yang optimal. Pada tahun-tahun pertama kehidupannya (usia dini) bahkan sejak anak masih di dalam kandungan, anak mutlak memerlukan ikatan yang menciptakan rasa aman dan nyaman.
Untuk itu upayakan agar: anak merasa dilindungi

. – memperhatikan minat, keinginan, dan pendapatnya

- memberi contoh, tidak memaksa

  – membantu, mendorong/memotivasi

- menghargai pendapat anak

  – mendidik dengan penuh kegembiraan melalui kegiatan bermain
 - melakukan koreksi dengan kegembiraan dan kasih sayang (bukan ancaman/hukuman)
 -Memberikan perhatian penuh serta memnuhi segala kabutuhan anaknya seperti ASI adalah salah satu cara memberikan kasih saying pada anak. Dapat diketahui bahwa ASI tak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi awal anak, tapi juga akan memperat ikatan emosi antara anak dan ibunya.

3. Kebutuhan asah (latihan / rangsangan / stimulasi)

 Untuk memperoleh perkembangan yang optimal, anak perlu ‘diasah’ melalui kegiatan stimulasi dini untuk mengembangkan sedini mungkin kemampuan sensorik, motorik, emosi-sosial, bicara, kognitif, kemandirian, kreativitas, kepemimpinan, moral dan spiritual.

Dasar perlunya stimulasi dini:

- milyaran sel otak dibentuk sejak anak di dalam kandungan dan belum ada hubungan antar sel otak (sinaps)

-orang tua perlu merangsang hubungan antar sel-sel otak

- bila ada rangsangan akan terbentuk hubungan-hubungan baru (sinaps)

- semakin sering di rangsang akan makin kuat hubungan antar sel-sel otak

- semakin banyak variasi maka hubungan antar se-sel otak semakin kompleks/luas

- merangsang otak kiri dan kanan secara seimbang untuk mengembangkan multipel
inteligen dan kecerdasan yang lebih luas dan tinggi.
- stimulasi mental secara dini akan mengembangkan mental-psikososial anak seperti:
kecerdasan, budi luhur, moral, agama dan etika, kepribadian, ketrampilan berbahasa,
kemandirian, kreativitas, produktifitas, dst

Yang dirangsang maksudnya disini adalah sensorik, motorik, kognitif, komunikasi-bahasa, sosio-emosional, kemandirian, kreativitas, kerjasama dan kepemimpinan, moral-spiritual

Tampak jelas pada scenario bahwa ibu lebih banyak diam sehingga stimulasi yang diterima anak juga sangat terbatas dan menyebabkan keterlambatan pada anak. padahal, kebutuhan akan stimulasi sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Anak yang sering diberi stimulasi seperti menagajaknya bicara atau bermain akan merangsang sinap-sinaps di otaknya terhubung lebih cepat, sehingga menyebabkan kemampuan anak lebih cepat terasah.

5. pemberian vaksinasi pada anak

Pemberian vaksin yang sesuai :

a. BCG usia 0-11 bulan [1x]

b. Hepatitis B [3 kali] → saat lahir [1x], bulan pertama [1x], bulan 3-6 [1x]

c. Polio [4 kali] → saat lahir [1x], bulan kedua[1x], bulan keempat [1x], bulan keenam [1x]

d. DPT [3 kali] → usia 2 bulan [1x], usia 4 bulan [1x], usia 6 bulan [1x]

e. Campak [1x] → usia 9 bulan

f. Hib [3 kali] → usia 2 bulan [1x], usia 4 bulan [1x], usia 6 bulan [1x]

g. Influenza [diberi setahun sekali setelah usia 6 bulan]

h. Pneumokokkus [3 kali] → usia 2 bulan [1x], usia 4 bulan [1x], usia 6 bulan [1x]

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: